Thursday, 29/10/2020 | 5:44 UTC+7
Berita Otomotif Indonesia

Bayi Yang Jarang Minum ASI Bisa Kena Hipertensi

ASI atau Air Susu Ibu memiliki manfaat yang sangat banyak bagi seorang bayi, hal tersebut karena dalam ASI terdapat beragam kandungan positif seperti Mineral, Vitamin, Karbohidrat, Protein dan masih banyak lagi. Pada intinya, seorang Bayi sangatlah membutuhkan asupan ASI dari sang ibu, bahkan paling tidak selama satu tahun pertama.

Akan tetapi, dewasa ini , tidak sedikit ibu-ibu yang tampak enggan memberikan ASI yang berkualitas kepada bayinya di rumah, entah karena alasan sibuk, atau tidak mau terjadi perubahan pada bentuk payudaranya. Padahal, Ibu-ibu di rumah harus tahu bahwa Bayi yang tidak mendapatkan ASI yang cukup, berpotensi terserang banyak penyakit, termasuk diantaranya Hipertensi.

Bayi yang tak diberi ASI dengan cukup, bisa berisiko terkena berbagai penyakit. Data riskesdas (riset kesehatan dasar) menyebut bahwa 65,7 persen bayi usia 0-23 bulan yang tak pernah disusui ibunya, berisiko terkena hipertensi (tekanan darah tinggi) kelak di kemudian hari.

“Itu karena sebenarnya ASI ini memiliki fungsi sebagai perlindungan kepada Bayi. Jadi, kalau dia tidak dikasih ASI, dia kelak bisa mengindap penyakit Hipertensi,” kata ahli spesialis anak, Prof Dr dr Partini Pudjiastuti Trihono, SpA(K), MM(Paed).

Tak sampai disitu, baru-baru ini American Journal of Epodemiology melakukan penelitian dan reset, dan ternyata Bayi yang mendapati ASI dari ibunya selama kurang lebih enam bulan pertama akan mendapati resiko yang lebih kecil untuk mengindap Hipertensi. Karenanya, sangat penting bagi seorang Bayi untuk mengkonsumsi ASI di periode 6 bulan pertama.

Namun perlu diingat juga, bahwa meskipun ASI sangat bermanfaat untuk daya tahan tubuh si Bayi, orang tua juga harus melindungi bayi mereka dari ancaman penyakit lain yang bisa menyerang, seperti Obesitas, konsumsi garang terlalu tinggi, atau kurang asupan sayur.

“Faktor-faktor risiko yang menyebabkan peningkatan pada anak seperti obesitas, kurang beraktivitas, asupan garamnya terlalu tinggi, asupan sayurnya kurang, makan makanan berpenyedap ternyata hampir 75 persen. Jadi itu faktor-faktor risiko yang menyebabkan anak-anak itu menjadi hipertensi dan hipertensi ini menetap hingga dewasa,” pungkasnya.

About

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *