Saturday, 31/10/2020 | 4:21 UTC+7
Berita Otomotif Indonesia

Idap Kelainan Langka, Pria Ini Terus Merasa Lapar

Perut kita memang akan memberikan sinyal ketika sedang lapar, namun rasa lapar akan hilang seketika setelah asupan makanan yang masuk sesuai dengan kebutuhan tubuh. Tapi ternyata tidak semua orang mengalami hal yang sangat biasa ini, ada sebuah kelainan langka yang membuat seseorang bisa terus merasa lapar.

Kelainan genetik itu disebut dengan istilah Prader-Willi Syndrome, dan baru-baru ini terdengar kabar seorang remaja berusia 18 tahun bernama Christian mengalami kelainan genetik tersebut. Bahkan, Hector Fernandez selaku ayahnya terpaksa harus mengunci rapat-rapat beberapa tempat penyimpanan makanan seperti Kulkas, dan lainnya.

Bukan takut maling datang dan menggondol persediaan makanan, melainkan agar anaknya, Christian tidak berlebihan mengkonsumsi makanan-makanan tersebut. Bahkan, Fernandez sampai harus menyimpan kunci kulkas di bawah bantal tidurnya.

Sebagai informasi, Prader-Willi Syndrome ini biasanya berhubungan dengan kromosom 15 dan gen OCA2. Anak-anak dengan sindrom ini biasanya dilahirkan dengan sakit-sakitan, memiliki kontrol otot yang lemah, dan memiliki berat badan di bawah normal pada awalnya.

Nah, seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan tubuhnya, si anak akan merasakan kelaparan yang tidak ada hentinya. Seperti yang dialami Christian, ia akan memakan apapun untuk memenuhi rasa laparnya yang tak ada habisnya. Bahkan yang lebih mengerikan lagi, Christian sempat mengkonsumsi makanan anjing, makanan sampah hingga pasta gigi.

“Makan makanan anjing dari mangkuk, makan sampah, mengosongkan seluruh isi pasta gigi ke dalam mulutnya. Baginya itu semua makanan,” kata Hector dikutip dari BBC.

Yang lebih mengerikan, sang ayah mengungkapkan bahwa Christian bisa saja memakan bagian dari tubuhnya sendiri lantaran rasa lapar tersebut tidak pernah berhenti. Hector pun mengaku harus mengikat Christian di kursi agar mencegahnya melukai diri sendiri dan orang lain.

“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika padanya jika saya tidak ada,” tandasnya.

Kondisi ini memang terdengar mengerikan, tak terbayang rasanya jika anak atau keluarga kita mengalami sindrome ini. Apalagi, Christian yang sudah mengalaminya masih belum mendapati obat untuk mengurangi sindrome tersebut.

About

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *